Rabu, 19 Mei 2010

MUKADIMAH

GABUNGAN PENDIDIK
DAN TENAGA KEPENDIDIKAN INDONESIA
MUKADIMAH

Bahwa peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan telah menjadi komitmen Departemen Pendidikan Nasional yang ditunjukkan dengan terbentuknya Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (DITJEN PMPTK) Departemen Pendidikan Nasional.

Bahwa salah satu tenaga kependidikan yang dinilai strategic dan penting untuk meningkatkan kualitas kinerja disekolah adalah tenaga pendidik dan kependidikan yang bertugas melakukan pembelajaran dikelas, berwawasan, laboratorium dan tata usaha, leader, tutor dan sumber ilmiah, terhadap semua peserta anak didik, baik formal ataupun non formal.

Bahwa untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan mandiri, diperlukan adanya tenaga kependidikan yang professional di tiap Propinsi, Kabupaten / Kota yang mampu bersatu padu, berwibawa, bekerja sama ditingkat Provinsi maupun tingkat Nasional bahkan ke manca Negara, secara Universal. Loyal terhadap pendidikan nasional.

Bahwa atas dasar pemikiran sebagaimana tersebut di atas mutlak diperlukan adanya suatu wadah yang bernuansa demokratis, kebersamaan, silih asah, silih asih, silih asuh, rame ing gawe nyepi ing pamrih, untuk menghimpun berbagai aspirasi yang muncul di tiap daerah Provinsi, Kabupaten / Kota yang diberi nama Gabungan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Indonesia, sesuai amanat Tut Wuri Handayani Sebagai amanat Undang Undang SISDIKNAS, Undang Undang Guru dan Dosen di era otonomi daerah, dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bahwa existensi G.P. Tendik Indonesia ( Gabungan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Indonesia ) adalah suatu kebutuhan, peran peduli pendidikan dalam mencerdaskan hidup dan kehidupan bangsa, dan merupakan Mitra Kerja terhadap peduli pendidikan yang lainnya. Disimpulkan G.P. Tendik Indonesia bukan merupakan rival terhadap pihak pihak yang telah berperan didunia pendidikan melainkan mitra kerja yang sejati, secara kebersamaan dan menata keberpihakkan, bagi Pendidikan Nasional

1 komentar:

  1. Selamat dan sukses semaoga Allah meridhoi niat baik ini, amin...amin ..yarobal alamin.

    BalasHapus

PETA NUSANTARA

Peta Nusantara Pertama Dibuat Pada Masa Majapahit

Jakarta (ANTARA) - Sejarah mencatat kegiatan survei dan pemetaan di Nusantara dilakukan sejak delapan abad lalu dimana peta paling awal justru dibuat oleh bangsa Nusantara sendiri pada masa Majapahit.

"Itu menurut CJ Zandvliet dari Belanda dalam jurnal Holland Horizon tahun 1994," kata Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Rudolf W Matindas pada Peluncuran Buku "Survei dan Pemetaan Nusantara: 40 Tahun Bakosurtanal" di Jakarta, Kamis.

Peta administratif pernah dibuat pada masa Raden Wijaya memerintah Kerajaan Majapahit dan diserahkan kepada tentara Yuan, asal China yang menaklukkan kerajaan tersebut pada tahun 1292, ujarnya.

Namun sejarah juga mencatat peta tentang Indonesia yang pertama adalah peta navigasi yang dibuat pada abad ke-15 ketika Laksamana Cheng Ho dari China melakukan pelayaran di wilayah negeri ini.

Pemetaan Indonesia yang lebih maju, ujarnya, dilakukan oleh bangsa-bangsa kolonialis yang awalnya datang sebagai pedagang dari mancanegara untuk mencari rempah-rempah.

Pada penjajahan Belanda selama 3,5 tahun itulah Belanda melakukan survei dan pemetaan ke berbagai wilayah dan menginventarisasi kekayaan hayati Nusantara sehingga muncul berbagai peta wilayah Nusantara yang karena keterbatasan teknologi memiliki akurasi rendah.

Empat abad kemudian ketika Indonesia telah lahir, pemetaan secara lebih detail masih belum ada, bahkan berapa jumlah pulau di Indonesia belum juga diketahui dan baru dirintis pertama kali oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang melibatkan tokoh Bakosurtanal, ujarnya.

"Sejak beberapa tahun terakhir, Bakosurtanal tengah merintis pembuatan peta berskala besar dengan akurasi tinggi yang dimungkinkan oleh teknologi yang semakin canggih dari mulai teknologi penginderaan jauh, teknologi digital, teknologi GPS, dan teknik pemrosesan data dengan sistem komputer," katanya.

Sementara itu, Pakar Sejarah LIPI Dr. Asvi Warman Adam menegaskan pentingnya peta, yang disebutkannya sebagai satu dari tiga faktor yang membentuk suatu bangsa, selain Sensus dan Museum.

"Peta merupakan tulang punggung bagi pembentukan suatu negara dan identifikasi suatu bangsa," katanya.

Sedangkan Sosiolog Imam Prasodjo di tempat sama mengeluhkan tersebarnya berbagai peta di berbagai institusi, seperti peta hutan gundul di Kementerian Kehutanan, peta tata ruang kota di Badan Pertanahan Nasional (BPN), peta fertilitas di Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

"Negara kita terlalu senang membuat pengkotak-kotakan. Seharusnya Bakosurtanal mengintegrasikan semua peta di berbagai institusi ini, dan menjadikan semua pemetaan Nusantara sebagai data digital yang bisa diakses semua orang," katanya.

Buku "Survei dan Pemetaan Nusantara" yang tebal dan hanya dcetak 1.000 eksemplar tersebut selain berbicara mengenai peran survei dan pemetaan juga membahas peran Bakosurtanal dalam melakukan survei dan pemetaan nasional.